Penyebab Perang Padri (1821 – 1837) di Sumatera Barat

Ada banyak kebiasaan-kebiasaan adat yang menjadi penyebab perang Padri. Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam yang menjadikan pertentangan antara kaum Adat dan kaum Padri.

Advertisement
Kaum Padri mengadakan pemberantasan adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kaum Padri adalah kaum yang ingin menegakan agama Islam dari tindakan – tindakan menyimpang dari ajaran Islam. Tokoh Kaum Padri antara lain Imam Bonjol, Tuanku Nan Cerdik, Tuanku Pasaman, dan Tuanku Hitam. Perang Padri terjadi di Minangkabau, Sumatra Barat. Perang Padri semula merupakan perang antara kaum Padri dengan kaum Adat.

Pada pertempuran antara kaum Padri dan kaum Adat di tanah Datar, kaum Adat kemudian minta bantuan kepada Belanda. Tuanku Pasaman dengan pasukannya menyerang pos Belanda di Semawang, Solialir, dan Lintan Sipinang pada Bulan September 1821. Karena kewalahan, Belanda akhirnya mengerahkan segala kekuatannya dengan dibantu kaum Adat bertempur melawan Tuanku Pasaman. Serangan Belanda tersebut berhasil mendesak kaum Padri. Belanda pun mendirikan Benteng Fort van der Capellen di Batu Sangkar. Pada tanggal 14 Agustus 1822, pasukan Tuanku Nan Renceh menyerang Belanda di daerah Baso. Di wilayah itu, Belanda terdesak dan Kapten Goffinet luka parah.

Meletusnya perang Padri di Sumatra Barat pada tahun1825 bersamaan waktunya dengan perang Diponegoro di Jawa Tengah. Kedudukan Belanda bertambah sulit karena harus mengirim pasukannya ke Jawa Tengah. Belanda pun mengadakan perjanjian yang di tandatangani di Ujung Karang. Mulai saat itu antara kaum Padri dengan Belanda mengadakan genjatan senjata.

Advertisement

Ketika Perang Diponegoro usai, Belanda belanda membatalkan perjanjian telah dibuat sebelumnya. Pimpinan militer tertinggi Belanda di Sumatra Barat, Kolonel Elout segera melancarkan serangan terhadap kedudukan kaum Padri. Serangan tersebut menyadarkan kaum Adat akan tujuan Belanda sebenarnya Belanda hanya ingin menindas dan menguasai rakyat Minangkabau. Kaum Adat akhirnya bergabung dengan kaum Padri untuk menghadapi Belanda.

Perang selanjutnya berkobar di Bonjol. Pertempuran dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Gapuk, dan Tuanku Hitam. Pada tanggal 12 Desember 1829, kaum Padri yang di pimpin oleh Tuanku Nan Cerdik berhasil mengalahkan Belanda pimpinan Richemont. Dalam menyikapi perang yang berlarut – larut, Gubrnur Jendral van den Bosch segera mengirimkan bala bantuan militer ke Padang pada pertengahan tahun1832. Pasukan ini terdiri atas tiga kompi dengan perlengkapan beberapa meriam dan mortir. Dalam pertempuran ini diikutsertakan pula Sentot Alibasyah Prawirodirjo dan pengikutnya. Namun, ketika pertempuran meletus kembali, pasukan sentot membelot ke kaum Padri. Hal ini karena Sentot menyadari bahwa kaum Padri merupakan kaum Pribumi yang juga hendak membebaskan diri dari penjajahan Belanda.

Pada bulan Agustus 1833, Tuanku Nan Cerdik terpaksa menyerah kepada Belanda. Belanda akhirnya mengetahui pusat kekuatan dan rencana kaum Padri. Pusat kekuatan kaum Padri ternyata ada di Bonjol. Akhirnya Belanda mengepung Bonjol dari berbagai penjuru. Jalan – jalan Bonjol ditutup sehingga pasukan Bonjol terisolasi. Sampai pada tahun1836 kaum Padri belum dapat dipatahkan oleh Belanda. Pada tahun1837 Belanda dibawah pimpinan Kolonel Michiels melakukan serangan besar – besaran terhadap kaum Padri di Bonjol. Kaum Padri berjuang mati – matian mempertahankan Benteng Bonjol. Akibat persenjataan yang kurang, pada tahun 1837 Benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Imam Bonjol tertangkap dan dibuang ke Cianjur kemudian di pindakan ke Minahasa hingga wafat (1864). Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di Pineleng dekat Manado.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *