Pengaruh Agama Hindu dan Agama Budha di Indonesia

Kedatangan pedagang India ke Indonesia membawa pengaruh yang besar terhadap kebudayaan di Indonesia. Interaksi penduduk dengan pedagang saling mempengaruhi. Budaya India yang sangat tampak pengaruhnya dan berkembang dengan pesatnya di Indonesia adalah agama Hindu dan Budha.

Agama ini dibawa oleh para pendeta dan brahmana  yang datang  bersama-sama para  pedagang, karena penyebarnya para pendeta dan kaum brahmana maka unsur yang sangat menonjol dari budaya India adalah budaya brahmana. Misalnya, penulisan prasasti dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansakerta serta upacara  penobatan raja.

Dalam  upacara  penobatan raja, biasanya diikuti dengan pelajaran tentang agama Hindu kepada raja dan keluarganya. Dari kebiasaan ini maka muncullah pendeta Hindu di Indonesia. Pendeta pendeta ini suatu saat pergi ke India untuk memperdalam pengetahuan tentang agama Hindu. Dengan bahasa sendiri, akhirnya agama Hindu dikembangkan  di Indonesia. Bangunan budaya Hindu  berupa candi, merupakan tempat pemujaan dan menyimpan abu Jenazah.

Demikian halnya dengan perkembangan agama Budha, yang semula diajarkan oleh Budha Gautama di India, berkembang menyertai jalur pelayaran pedagang India ke Indonesia akhirnya dianut di  kerajaan-kerajaan di Indonesia. Di Kerajaan Sriwijaya, agama Budha berkembang pesat, bahkan di kerajaan ini didirikan  perguruan tinggi yang khusus mempelajari agama Buddha dan bahasa Sansakerta.

Advertisement

Kerajaan Sriwijaya juga mengadakan kerjasama dengan perguruan tinggi Nalanda di India. Dengan kerja sama itu maka mahasiswa Indonesia yang belajar di perguruan tinggi itu mendapat jaminan tempat tinggal selama  mereka belajar di India. Setelah mereka selesai  maka akan mengembangkan ajaran agama Buddha di Indonesia.

Peninggalan budaya Hindu dapat dilihat pada prasasti-prasasti, bangunan Candi  Rara Jonggrang,  komplek Candi Dieng, dan Candi Panataran, sedangkan peninggalan Buddha dapat ditemukan di Cendi.

Di bidang kebudayaan, masyarakat Kutai mengembangkan tradisi penghormatan kepada orang tua dan para pendahulu. Dalam prasasti dijelaskan bahwa Raja Mulawarman pernah menyelenggarakan upacara selamatan dengan  persembahan sebanyak 20.000 ekor  sapi. Persembahan itu merupakan wujud dari sikap berbakti raja kepada para leluhurnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *