Kritik terhadap Teori Asal Mula Jagat Raya

Pembentukan zat di ruang angkasa yang kososng itu diterima dengan ragu-ragu oleh para ahli, sebab hal ini rupanya melanggar salah satu hukum fisika, yaitu hukum kekekalan zat.

Advertisement

“Zat yang tidak dapat diciptakan atau dihilangkan , tetapi hanyalah dapat diubah menjadi jenis zat lain atau menjadi energi”.

Sebaliknya, sulit pula untuk menyanggah secara langsung proses pembentukan zat itu, karena berkesinambungan menurut teori keadaan tetap, jumlah zat sangat lambat bertambahnya, kira-kira satu atom setiap seribu juta tahun dalam satu volume ruang angkasa.

a. Kritik terhadap teori ledakan besar

Kritik pertama terhadap teori ledakan besar adalah umur jagat raya yang dihitung secara matematis terlalu sedikit untuk sejumlah bintang yang sangat tua, yang umurnya telah ditentukan secara bebas dari jumlah bahan bakar nuklir yang telah digunakan.

Advertisement

Akan tetapi, para penganut teori ledakan besar berpendapat bahwa metode pendataan bintang itu masih kurang seksama sehingga mereka menganggap bahwa hal itu bukan suatu ancaman besar bagi gagasannya.

Kritik kedua adalah pernyataan tentang semua zat di mampatkan dalam suatu massa padat sangat sulit dipahami ledakan dan pergerakan massa ini dapat digambarkan dengan terbangnya proyektil yang ditembakan dari permukaan bumi. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi yaitu sebagai berikut.

• Proyektil terbang begitu cepat sehingga mudah lepas dari gravitasi bumi dan bergerak cepat memasuki ruang angkasa, atau
• Proyektil hampir tidak dapat lepas dari pengaruh gravitasi bumi dan terus bergerak sangat lambat ke arah luar, atau
• Proyektil tidak dapat membangkitkan kecepatan untuk bebas dari gravitasi bumi. Proyektil melambat, berhenti, hingga kemudian jatuh akibat percepatan gravitasi.

Jagat raya yang meluas mungkin berlaku serupa yaitu meluas dengan cepat, atau bergerak sangat lambat, atau mungkin berhenti dikalahkan oleh tarikan gravitasi antarzat.

b. Kritik terhadap teori keadaan tetap

Teori keadaan tetap sebagai telaah astronomi tidak mendapat dukungan lagi. Kegagalan utama teori tersebut adalah mengenai kesamaan bintang-bintang dan galaksi-galaksi. Teori ini tidak menyatakan bahwa sifat rata-rata berbagai galaksi yang dekat dan jauh akan berbeda. Namun, para ahli astronomi radio telang mengetahui adanya perbedaan tersebut, terutama dengan banyaknya sumber radio lemah.

Hal ini dapat dijelaskan dengan dasar teori ledakan besar yang menyatakan bahwa galaksi mengalami evolusi. Galaksi memiliki ciri berbeda karena keterbatasan kecepetan cahaya, letaknya yang jauh, dan perbedaan massa. Dengan berbagai fakta ini, Hoyle tidak lagi mendukung teori keadaan tetap. Begitu pula ahli lain yang berupaya untuk mengubah teori tersebut.
Selain dua teori tentang terjadinya jagat raya ini, terdapat beberapa paham mengenai jagat raya.

• Paham Antroposentris

Paham antroposentris (anthropos = manusia; centrum = pusat) adalah anggapan yang menyatakan bahwa manusia adalah pusat segalanya. Anggapan ini dimulai sejak zaman kebudayaan primitif, waktu manusia menyadari adanya bumi dan langit. Matahari, bulan, bintang, dan bumi, dianggap serupa dengan hewan, tumbuhan, dan manusia.

Bangsa Babilonia pada masa 2.000 tahun SM mengambarkan alam semesta sebagai kubah tertutup, dengan bumi sebagai lantainya. Di sekeliling bumi dianggap terdapat jurang yang tergenang air, diseberang jurang terdapat gunung yang tinggi penyangga langit. Para ahli zaman itu telah menghitung panjang tahun berjumlah 365 hari.

Bangsa ibrani mempunyai konsep semesta yang dipengaruhi oleh pandangan bangsa Babilonia. Mereka menganggap bahwa langit di topang oleh tiang-tiang raksasa. Di langit terdapat Matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menempel. Selain itu juga ada jendela-jendela untuk tempau curahan air hujan.

• Paham Geosentris

Paham geosentris (geo = bumi; centrum = pusat) adalah anggapan yang menyatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Semua benda langit mengelilingi bumi, dan semua kekuatan alam berpusat di bumi. Anggapan ini di mulai lebih kurang abad ke-7 SM. Beberapa ahli pendukung geosentris antara lain Socrates, Plato, Aristoteles, Thales, Anaximander, dan Phytagoras.

• Paham Heliosentris

Paham heliosentris (helios = matahari; centrum = pusat) adalah anggapan bahwa pusat tata surya adalah matahari. Pandangan ini dianggap revolusioner pada masanya dan menggantikan kedudukan paham geosentris, sebagai akibat semakin majunya alat penelitian dan sifat ilmuwan yang kritis.

Nocilaus Copernicus adalah seorang pelukis, dokter, ahli matematika, dan astronom, ia melihat beberapa kekeliruan dalam tabel buatan Ptolemeus, pada tahun 1507 ia menulis buku yang sangat terkenal, De Revolutionibus Orbium Caelastium (revolusi peredaran benda-benda angit).

Ia mengemukakan adanya sistem matahari, yaitu matahari sebagai pusat yang dikelilingi oleh planet-planet, bahwa bulan juga mengelilingi bumi dan bersama-sama mengitari matahari, bahwa bumiberputar ke arah timur pada porosnya yang menyebabkan terjadinya siang dan malam. Beberapa pendukung teori heliosentris adalah Giordano Bruno, Galileo Galilei, Johanes Kepler, dan Isaac Newton.

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *