Kondisi Sosial-Politik Kerajaan Mataram

No comment 37 views

Pengganti Sanjaya adalah Rakai Panangkaran. Kuat dugaan pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dinasti Syailendra dari Sumatra (kerajaan Sriwijaya) menguasai Mataran dan menjadikan raja-raja dari dinasti Sanjaya sebagai raja bawahan Sriwijaya. Ada tiga sumber sejarah yang menguatkan ini.

Kondisi Sosial-Politik Kerajaan Mataram

Kondisi Sosial-Politik Kerajaan Mataram

Pertama, Prasasti Kalasan (Jawa) yang berangka tahun 778M. prasasti ini menyebutkan Rakai Panangkaran mendapat perintah dari Maharaja Wisnu, raja dari dinasti Syailendra (Sriwijaya) untuk mendirikan Candi Kalasan (candi Buddha).

Diperkirakan Dinasti Syailendra menguasai dinasti Sanjaya sekitar tahun itu. Dalam prasasti itu Rakai Panangkaran disebut sebagai Syailendrawangsatilaka atau “permata Wangsa Syailendra” kuat dugaan, kendati sudah menguasai dinasti Sanjaya dinasti (Wangsa ) Syailendra tetap memperlakukan dinasti Sanjaya dengan rasa hormat dan memberi mereka kedudukan atau posisi penting di istana.

Kedua, prasasti Kota Kapur (sumatra) berdasarkan rasasti ini Sriwijaya telah menguasai bagian selatan sumatra, pulau bangka dan belitung, hingga lampung.

Prasasri ini juga menyebutkan Sri Jayanasa (Dapunta Hyang) telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum bumi jawa, karena bumi jawa tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Bumi jawa yang dimaksud adalah kerajaan Tarumanagara. Kemungkinan besar kerajaan Mataram ikut dikuasai, dan menjadikan Rakai Panangkaran sebagai raja bawahan Sriwijaya.

Ketiga, menurut analisis atas prasasti Mantyasih, dalam masa pemerintahan Rakai Panagkaran banyak mendirikan candi-candi seperti candi Sewu, Plaosan, dan Kalasan. Dilihat dari struktur bangunannya, candi-candi ini bercorak agama Buddha.

Buddha adalah agama yang dianut di Kerajaan Sriwijaya. Kuat dugaan Rakai Panangkaran pindah ke agama Buddha ketika Mataran dikuasai Dinasti Syailendra. Kendati demikian, dibawah dinasti Syailendra toleransi beragama di Mataram tetap terjaga. Bangunan-bangunan can di menunjukan hal tersebut.

Pada akhir abad ke-10 M, Mataram diperintah oleh Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang memerintah sampai tahun 1016 M. Ia adalah salah seorang keturunan Mpu Sindok. Berdasarkan berita dari Cina, disebutkan bahwa Dharmawangsa pada tahun 990 M melakukan serangan ke Sriwijaya sebagai upaya mematahkan monopoli perdagangan Sriwijaya. Serangan tersebut gagal, malahan Sriwijaya berhasil menghasut Raja Wurawari (sekitar Banyumas) untuk menyerang istana Dharmawangsa pada tahun 1016. Akhirnya Sri Dharmawangsa yang mempunyai ambisi untuk meluaskan kekuasaannya, pada tahun 1016 M mengalami kehancuran (Pralaya) di tangan seorang raja bawahannya sendiri yaitu Raja Wurawari. Peristiwa ini terjadi pada saat Sri Dharmawangsa sedang melangsungkan acara pernikahan putrinya dengan Airlangga.

Seluruh keluarga raja tewas termasuk Dharmawangsa, Airlangga yang berhasil menyelamatkan diri dan bersembunyi di Wonogiri (hutan gunung). Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa. Pada tahun 1019, Airlangga yang merupakan menantu Dharmawangsa yang berasal dari Bali dinobatkan oleh para pendeta Buddha menjadi raja menggantikan Dhamawangsa. Ia segera mengadakan pemulihan hubungan baik dengan Sriwijaya, bahkan membantu Sriwijaya ketika diserang Raja Colamandala dari India Selatan. Pada tahun 1037 M Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawangsa, meliputi seluruh Jawa Timur Kemudian pada tahun 1037, Airlangga memindahkan ibu kota kerajaannya dari Daha ke Kahuripan.

Pada tahun 1042, Airlangga mengundurkan diri dari takhta kerajaan, lalu hidup sebagai petapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra). Menjelang akhir pemerintahannya Airlangga menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya Sangrama Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya itu menolak dan memilih untuk menjadi seorang petapa dengan nama Ratu Giriputri. Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi dua kerajaan.

Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya perang saudara di antara kedua putranya yang lahir dari selirnya. Kerajaan itu adalah: Kerajaan Janggala di sebelah timur diberikan kepada putra sulungnya yang bernama Garasakan (Jayengrana), dengan ibu kota di Kahuripan (Jiwana) meliputi daerah sekitar Surabaya sampai Pasuruan, dan Kerajaan Panjalu (Kediri) di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya yang bernama Samarawijaya (Jayawarsa), dengan ibu kota di Kediri (Daha), meliputi daerah sekitar Kediri dan Madiun.

Raja-raja yang memerintah di Kediri antara lain: Jayawarsa, Jayabaya, Sarwewara, Gandara, Kameswara, dan Kertajaya. Pada masa Jayabaya Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya. Pada prasasti Ngantang dijelaskan bahwa Raja Jayabaya memberikan hadiah kepada rakyat desa Ngantang berupa tanah perdikan. Hadiah diberikan kepada rakyat tersebut karena telah membantu raja ketika terjadi peperangan dengan Jenggala. Kerajaan Janggala hanya berusia sekitar satu abad karena ditaklukkan oleh Kerajaan Panjalu pada tahun 1135.

Waktu itu raja Panjalu bernama Jayabaya (1130- 1158). Selain dikenal sebagai raja yang mempersatukan kembali wilayah Airlangga, nama Jayabaya sering dikaitkan dengan ramalan-ramalan tentang nasib Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Jayabaya, pujangga Mpu Sedah dan Mpu Panuluh menulis Kakawin Bharatayudha yang menceritakan kemenangan Pandawa melawan Kurawa, sebagai bandingan terhadap kemenangan Panjalu atas Janggala.

Raja Panjalu yang terakhir adalah Kertajaya atau Dandang Gendis (1190-1222). Pada masa pemerintahannya, keadaan menjadi tidak stabil, terutama konflik antara raja dan kaum Brahmana. Konflik tersebut disebabkan oleh banyaknya kebijakan-kebijakan raja yang hendak mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Konflik itu mencapai puncaknya dengan terjadinya peperangan antara Pasukan Kediri yang menyerang Tumapel yang terdiri dari rakyat Tumapel, kaum Brahmana yang dipimpin oleh Ken Angrok (dibaca: Ken Arok).

Kerajaan ini pada tahun 1222 dikalahkan oleh Ken Angrok dari Singhasasri dalam pertempuran di Ganter. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Kerajaan Panjalu (Kediri).

sumber : ratna hapsari | m adil. sejarah indonesia SMA/MA kelas X. ERLANGGA

Tags:
author
No Response

Leave a reply "Kondisi Sosial-Politik Kerajaan Mataram"